Kamis, 07 Mei 2009

How to "understanding her...."


Salam super....
Hubungan antara Lelaki dan perempuan memang selalu menarik untuk dibicarakan. pada posting kali ini. Naryo sajikan tips-tips untuk memahami perasaan pasangan anda. semoga bermanfaat. dan jangan lupa komentarnya.....

Perempuan membutuhkan perhatian sedangkan Laki-laki membutuhkan kepercayaan

Saat laki-laki memperlihatkan minat terhadap perasaan-perasaan perempuan dan menunjukkan kepedulian mendalam akan kesejahteraan perempuan itu, maka si perempuan akan merasa dicinta dan diperhatikan. Dengan membuat si perempuan merasa istimewa dengan cara yang penuh cinta, lelaki itu berhasil memuaskan kebutuhan primernya yang pertama. Tentu saja si perempuan akan semakin mempercayainya. Rasa percaya ini membuatnya lebih terbuka dan lebih mudah menerima.
Bila perempuan menunjukkan sikap terbuka dan mudah menerima terhadap laki-laki, laki-laki itu merasa dipercaya. Mempercayai pria berarti meyakini bahwa ia melakukan yang terbaik dan bahwa lelaki tersebut tentu menginginkan yang terbaik bagi pasangannya. Bila reaksi-reaksi si perempuan mengungkapkan kepercayaan positif terhadap kemampuan dan niat laki-laki, kebutuhan cinta utama lelaki pun akan terpuaskan. Otomatis lelaki itu jadi penuh cinta dan perhatian terhadap perasaan-perasaan dan kebutuhan si perempuan.

Perempuan membutuhkan pengertian sedangkan lelaki membutuhkan penerimaan

Bila laki-laki mendengarkan tanpa menghakimi, melainkan dengan empati dan kedekatan terhadap perempuan yang sedang mengungkapkan perasaan-perasaannya, perempuan itu merasa didengarkan dan dipahami. Sikap penuh pengertian tidak berarti mengetahui pikiran atau perasaan seseorang, melainkan berusaha mengumpulkan makna-makna dari apa yang didengar, dan bergerak untuk membenarkan apa yang disampaikan. Semakin terpenuhi kebutuhan perempuan untuk didengarkan dan dimengerti, semakin mudah baginya untuk memberi penerimaan yang dibutuhkan pasangannya.
Bila perempuan dengan penuh cinta menerima lelaki tanpa berusaha mengubahnya, laki-laki itu merasa diterima. Sikap menerima itu tidak menolak, melainkan menegaskan bahwa lelaki itu diterima dengan gembira. Ini tidak berarti si perempuan yakin bahwa lelaki itu sempurna, melainkan memperlihatkan bahwa ia tidak mencoba memperbaiki laki-laki itu, bahwa ia mempercayai si lelaki untuk membuat perbaikan-perbaikan sendiri. Setelah merasa diterima, lebih mudah bagi lelaki untuk mendengarkan dan memberi perempuan pemahaman yang dibutuhkan dan layak diterimanya.

Perempuan membutuhkan rasa hormat sedangkan lelaki membutuhkan penghargaan

Perempuan merasa dihormati bila lelaki menanggapinya dengan mengkui dan mengutamakan hak-hak, harapan, dan kebutuhan-kebutuhannya. Bila tingkah laku lelaki itu mempertimbangkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya, perempuan tersebut pasti merasa dihormati. Ungkapan-ungkapan rasa hormat fisik dan nyata, seperti dengan mengingat hari ulang tahunnya misalnya. Akan sangat penting untuk memuaskan kebutuhan cinta perempuan. Bila perempuan merasa dihormati, akan jauh lebih mudah baginya untuk memberi pasangannya penghargaan yang layak diterimanya.
Bila perempuan mengakui telah menerima manfaat dan nilai pribadi dari usaha-usaha dan tingkah laku lelaki, si lelaki jadi merasa dihargai. Penghargaan merupakan reaksi alami terhadap perasaan didukung. Setelah merasa dihargai, lelaki tau bahwa usahanya tidak sia-sia. Dengan demikian ia didorong untuk memberi lebih banyak. Pria yang merasa dihargai secara otomatis lebih bersemangat dan terdorong untuk lebih menghoramati pasangannya.

Perempuan membutuhkan kesetiaan sedangkan lelaki membutuhkan kekaguman

Bila lelaki mengutamakan kebutuhan-kebutuhan perempuan dan dengan bangga mendukung dan memuaskan si perempuan, kebutuhan cinta perempuan akan terpuaskan. Perempuan berkembang subur jika ia merasa dipuja dan istimewa. Lelaki dapat memenuhi kebutuhan ini dengan lebih mementingkan kebutuhan dan perasaan perempuan itu daripada minat-minatnya sendiri seperti pekerjaan, pelajaran, dan rekreasi. Jika si perempuan merasa dirinyalah yang terpenting dalam kehidupan lelaki itu, dengan mudah ia akan memberikan kekagumannya.
Seperti halnya perempuan perlu merasakan perhatian lelaki, lelakipun perlu merasakan kekaguman perempuan. Mengagumi lelaki adalah memandangnya dengan penuh kekaguman, rasa senang dan persetujuan yang menyenangkan. Lelaki merasa dikagumi jika perempuan gembira dan takjub akan sifat-sifat khasnya atau bakat-bakatnya yang mungkin mencakup rasa humor, keperkasaan, ketekunan, kejujuran, integritas, kemesraan, kebaikan hati, cinta, pengertian, dan sifat-sifat baik lain yang disebut nilai-nilai lama. Bila lelaki merasa dikagumi, ia akan merasa cukup aman untuk membaktikan diri bagi pasangannya dan menyanjungnya.

Perempuan membutuhkan penegasan sedangkan lelaki membutuhkan persetujuan

Bila lelaki tidak keberatan atau menentang perasaan dan kebutuhan perempuan, melainkan menerimanya dan menegaskan keabsahannya, perempuan akan betul-betul merasa dicintai. Sikap mengesahkan lelaki menegaskan perempuan untuk merasa sebagaimana dirasakannaya. (perlu diingat, Lelaki dapat menghargai sudut pandang perempuan, meski ia sendiri mempunyai sudut pandang berbeda). Setelah lelaki belajar menunjukkan pada perempuan sikap mengiyakan ini, lelaki itu pasti memperoleh persetujuan yang terutama dibutuhkannya.
Jauh di dalam lubuk hatinya, setiap lelaki ingin menjadi pahlawan atau kesatria berkuda putih bagi para perempuan. Tanda bahwa lelaki telah lulus ujian seoraang perempuan adalah persetujuannya. Sikap menyetujui ini berupa pengakuan atas kebaikan dalam diri si lelaki dan mengungkapkan kepuasan menyeluruh terhadap lelaki ini. (ingat, memberikan restu kepada lelaki tidak lalu berarti sependapat dengannya). Sikap menyetujui berarti mengakui atau mencari alasan-alasan yang baik dibalik apa yang dilakukan lelaki itu. Setelah lelaki menerima persetujuan yang dibutuhkan, jadi lebih mudah baginya untuk menghargai perasaan-perasaan si perempuan.

Perempuan perlu jaminan sedangkan lelaki perlu dorongan

Bila lelaki berulang-ulang memperlihatkan bahwa ia memperhatikan, memahami, menghormati, menghargai, dan menyayangi pasangannya, kebutuhan utama pasangannya untuk diyakinkan telah terpenuhi. Sikap meyakinkan membuat perempuan merasa senantiasa dicintai.
Lelaki umumnya membuat kekeliruan dengan menganggap bahwa sekali ia telah memenuhi semua kebutuhan cinta primer pasangannya. Dan pasangannya merasa bahagia dan aman. Maka sejak saat itu pasangannya harus tahu bahwa ia dicintai. Padahal ini tidak cukup. Untuk memuaskan kebutuhan pasangannya, lelaki harus ingat untuk meyakinkannya berulangkali.
Demikian juga, lelaki terutama merasa perlu mendapat dorongan dari perempuan. Sikap membesarkan hati dari perempuan bisa memberi harapan dan keberanian kepada lelaki. Perempuan dapat mengungkapkan kepercayaan akan kemampuan-kemampuan serta watak si lelaki. Sikap mengungkapkan kepercayaan, penerimaan, penghargaan, kekaguman, dan persetujuan mendorong lelaki untuk menjadi pribadi yang sebaik-baiknya. Karena merasa berbesar hati, lelaki terdorong untuk memberi kepada perempuan jaminan penuh cinta yang dibutuhkan.
Lelaki dapat menampilkan sisinya yang terbaik setelah kebutuhan-kebutuhan cinta primernya. Tapi kadang-kadang perempuan tidak tahu apa yang terutama dibutuhkan lelaki. Ia memberikan cinta penuh perhatian, bukannya cinta penuh kepercayaan.

Based on Men are From mars and Women Are From Venus by Jhon Gray

Selasa, 05 Mei 2009

Mengapa Perempuan Begitu Sulit Dimengerti


Beberapa hal yang membuat perempuan begitu sulit dimengerti antara lain;

Jika dikatakan cantik dikira menggoda ,

jika dibilang jelek di sangka menghina.

Bila dibilang lemah dia protes, bila dibilang perkasa dia nangis .

Maunya emansipasi, tapi disuruh benerin genteng, nolak

(sambil ngomel masa disamakan dengan cowok)

Maunya emansipasi, tapi disuruh bayari makan malah cemberut

(sambil ngomel,Pelit amat sih cowok ini tidak punya perasaan)

Jika di tanyakan siapa yang paling di

banggakan, kebanyakan bilang Ibunya ,

tapi kenapa ya ..... lebih bangga jadi wanita karir,

padahal ibunya adalah ibu rumah tangga

Bila kesalahannya diingatkankan, mukanya merah..

bila di ajari mukanya merah, bila di sanjung mukanya merah

jika marah mukanya merah,kok sama semua ? bingung !!

Di tanya ya atau tidak, jawabnya diam;

ditanya tidak atau ya, jawabnya diam;

ditanya ya atau ya, jawabnya :diam,

ditanya tidak atau tidak, jawabnya ; diam,

ketika didiamkan malah marah (repot kita disuruh jadi dukun yang

bisa nebak jawabannya).

Di bilang ceriwis marah, dibilang berisik ngambek, dibilang banyak

mulut tersinggung,

tapi kalau dibilang S u p e l

wadow seneng banget..padahal sama saja maksudnya.

Dibilang gemuk engga senang padahal maksud kita sehat gitu lho

dibilang kurus malah senang

padahal maksud kita "kenapa elho jadi begini !!

Makin bingung kita.... makin senaglah dia...

we can't live with her....

but....

we can't live without her....

E... tanya kenapa?

Kamis, 16 April 2009

Aku Iri...


Aku iri pada langit dan bintang-bintang…

yang setia pada peredaran ruang dan waktu

dalam sujud penghambaan semesta

demi Dzat pemelihara jagat raya….

Aku Iri pada matahari….

yang bertasbih sepanjang hari

Untuk segenggam tanah bumi

demi bersujud pada ilahi

Aku iri pada sang rembulan

yang menerangi gulita malam

agar kelam menjadi tenteram

demi ridlo penguasa alam

Aku iri pada gunung dan lautan

yang dijunjung dan dihamparkan

saling menanggung dalam keselarasan

demi penguasa segala keseimbangan

aku iri pada pepohonan dan bebungaan

merah, kuning, hijau, ungu..

aneka warna, bentuk dan rupa

demi sujud kepada penguasa keindahan

Aku iri pada lebah dan serangga

yang menari dalam harmoni

mencari madu untuk berbagi

demi mengabdi pada yang maha merakhmati…

dan…

aku iri kepadamu…

engkau yang terjaga, saat orang lain terlena

engkau yang memberi, saat orang lain meminta

engkau yang mengayomi, saat orang lain pergi

engkau yang ridlo, saat orang lain iri dengki

Karena…

aku hanyalah hamba hina yang ingin jadi sempurna

aku hanyalah debu yang ingin jadi permata

agar…

waktuku yang sebentar menjadi berharga

agar…

Sejarah mencatat, bahwa aku pernah ada…

menjadi bagian indah dalam masa

agar…

jika hari itu tiba…

para malaikat berkata…

salam sejahtera wahai hamba Alloh yang mulia….

Minggu, 29 Maret 2009

Di Kaki Gunung Arjuna... Disamping Puri Kendedes...


Di kaki gunung Arjuna… di samping Puri kendedes…

aku merebahkan diriku di dinginnya malam…
membayangkan dirimu dalam sepi..
senyummu merekah begitu indah… laksana seribu bebungaan di lereng-lereng arjuna… indah… tetap segar… menunggu dengan begitu setia…
Matamu begitu bening… sebening air pegunungan yang selalu menyegarkan diriku setiap waktu…
tutur katamu selalu terngiang di telingaku… beresonansi daam frekuensi alami…
menggetarkan hati… memaku kuatnya hati…

Di kaki gunung Arjuna… di samping Puri Kendedes…

Aku sadar…
aku paham…
aku mengerti…
inilah hidup sebenarnya…
perih… ngilu… menyesakkan…
tapi terasa indah…

Di kaki gunung Arjuna… Di samping Puri Kendedes…

setiamu… akan kuperjuangkan…
penantianmu… tak akan kusiakan…
asamu… akan menjadi kenyataan…
ketulusanmu… menjadi alasanku untuk tidak menyerah pada nasib…
bahwa semua bisa berubah…

Di kaki gunung Arjuna… di Samping Puri Kendedes…

Jauh ini… tak menghilangkan rasa cintaku padamu…
lelah ini… tak menghilangkan kerinduanku padamu…
peluh ini… takkan mengusik sedikitpun perasaanku padamu…
badai ini… takkan menggoyahkan keyakinanku akan dirimu…

agar… engkau tau…
betapa aku ingin mencintaimu…
seperti malam pada siang…
seperti langit pada bintang…
seperti matahari pada bulan…
seperti laut pada pantai…
seperti kehidupan dan kematian…

Dear.... Bidadari Kecilku...


Aku begitu terharu. Aku masih tidak percaya dengan mataku. Setelah menunggu sekian lama, hidayah itu akhirnya tiba, kerudung itu kau pakai juga. Tak terkatakan betapa besar karunia Alloh padamu. Tak tergambar betapa berbunga hatiku menatapmu hari itu. Tak terlukiskan betapa besar syukurku kepada-Nya. Engkau nampak begitu anggun dengan busana barumu itu saudaraku…. aku sungguh melihat keindahan yang Maha Indah, menampakkan keindahan-Nya dalam dirmu. Kuharap, hatimu tetap seputih kerudung-Mu, akhlak budimu seanggun penampilanmu….
Saudaraku, ingatkah engkau akan hari itu? saat seorang bidadari membuktikan cintanya, saat ia berada di tapal batas hidup dan mati. Keringat mengucur deras, darah mengalir tanpa henti. Sekuat tenaga ia mengerang, menjerit, mengaduh sekuat tenaga. Rasa sakit itu telah melebihi ketahanan tubuhnya, tak sebanding dengan sayatan pedang, tak tergambar dengan tusukan tombak sekalipun. Tapi, saat bidadari kecil itu lahir, semuanya seperti tidak pernah terjadi. Peluh itu, darah itu, erangan itu, jeritan itu, rasa sakit itu seakan hilang. Semua terhapus oleh tangismu yang begitu merdu mengalun di telinga. Terhapus oleh wangi air senimu dan kotoranmu yang tertumpah dipangkuannya.

Sister..kenakalanmu adalah kesenangan baginya. Rengekanmu adalah nyanyian indah baginya. Tangismu adalah melodi cinta baginya. Manjamu adalah pujian baginya. Lelapmu adalah ketentraman baginya. Sakitmu adalah siksaan baginya. Perihmu, perihnya. Sedihmu, sedihnya. Senangmu, senangnya. Kehormatanmu, kehormatannya. Tenangmu, tenangnya. Senyummu, senyumnya. Bahagiamu, bahagianya. Tenterammu, tenteramnya. Sejahteramu, sejahteranya.

Ketahuilah, ia begitu sabar menunggu datangnya hari ini. Hari yang dijanjikan. Hari ketika ”kucing kecil” itu tumbuh menjadi bidadari yang baru, yang lebih cantik, lebih anggun dari bidadari yang melahirkannya beberapa tahun yang lalu, bahkan lebih indah dari seluruh bidadari di seluruh jagat raya ini. Yakinlah saudaraku, kini bidadari itu sedang menuggumu, mengenangmu, merindukan saat-saat berbahagia bersamamu. Mendambakan cinta yang dahulu terlepas dari dirinya. Ia tak kuat berpisah terlalu lama denganmu. Tidakkah engkau tahu betapa ia begitu merindukanmu?

Bidadariku….pulanglah! temui ibumu segera! Jangan biarkan ia terlalu lama menunggumu di sana. Tidakkah engkau tersadar? Pandangannya mulai sayu, pendengarannya mulai terganggu, guratan-guratan usia mulai tergmbar di wajahnya yang begitu mulia. Telapak tangan itu sudah tak selembut dahulu. Suara itu sudah tidak senyaring dahulu, sekeras saat mengingatkan kenakalan-kenakalanmu, saat meleraimu berseteru dengan saudara-saudaramu yang lain.
Barangkali…. esok engkau tidak akan sempat lagi berbicara dengannya. Boleh jadi ia takkan sempat lagi mendengarkan pengaduanmu, keluh kesahmu, sedu sedanmu, pengalaman-pengalamanmu selama berkelana. Jangan-jangan engkau tak akan lagi mendengarkan arif nasihat, kecupan hangat, pelukan-pelukan yang selalu menentramkanmu selama ini.

Nanti, saat sepasang matamu beradu dengan bidadari itu. Cium kedua mata kakinya, peluk erat dirinya. Biarkan tubuh renta itu bertemu kembali dengan bagian cinta yang dahulu hilang. Biarkan ia menciummu, memelukmu, membelai-belai rambutmu. Relakan air matanya mengalir deras membasahi pipi yang begitu mulia. Aminkan doanya, karena saat itu para malaikat berkumpul di sekelilingmu, di sekitar bidadari itu, turut mengaminkan doa.

”Alloh sayang…segala puji bagiMu. Rabb semesta alam. Yang mengasai hari pembalasan. Duhai Dzat yang menciptakan cinta. Peliharalah cintaku, belahan jiwaku. Jadikan ia menjadi bagian cintaMu. Karuniakan baginya kecukupan. Mudahkan rizkinya. Berkahkan umurnya. Tunjukkan bahwa yang benar adalah benar, dan berilah kekuatan untuk untuk melaksanakannya. Tunjukkan pula, bahwa yang batil adalah batil, dan berilah kekuatan untuk menjauhinya. Sayang, sinari hatinya dengan cahaya hidayahMu, sebagaimana matahariMu menyinari bumi selama ini.”
”Rabb… jadikan ia keturunan yang solehah. Yang mengerti agamaMu, yang mencintaiMu lebih dari apa saja, yang rela berpeluh di jalanMu, yang mengikuti jalan para nabiMu, yang selalu berbagi dengan hamba-hambaMu yang lain. Agar ketika dicukupkan usiaku, ketika Engkau menjemputku kembali, aku bisa menghadapMu dengan tenang. Aku bisa merasakan doa-doa mengalun dari bibirnya, saat amal ibadahku telah terlepas di alam sana. Agar usahaku tidak sia-sia, pengorbananku berbuah surga.”
………Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah. Dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah ti puluh bulan. Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a; Ya tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau, yang telah Engkau berikan kepadaku an kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang Engkau ridloi; berikan kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri………..

My Sweetheart Delisa


Ada
sebuah keluarga di Lhok Nga - Aceh, yang selalu menanamkan ajaran Islam
dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan Abi Usman.
Mereka memiliki 4 bidadari yang solehah: Alisa Fatimah, (si kembar)
Alisa Zahra & Alisa Aisyah, dan si bungsu Alisa Delisa.



Setiap
subuh, Umi Salamah selalu mengajak bidadari-bidadariny a sholat jama ‘
ah. Karena Abi Usman bekerja sebagai pelaut di salah satu kapal tanker
perusahaan minyak asing - Arun yang pulangnya 3 bulan sekali. Awalnya
Delisa susah sekali dibangunkan untuk sholat subuh. Tapi lama-lama ia
bisa bangun lebih dulu ketimbang Aisyah. Setiap sholat jama ‘ ah,
Aisyah mendapat tugas membaca bacaan sholat keras-keras agar Delisa
yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaan sholat itu.



Umi
Salamah mempunyai kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emas kepada
anak-anaknya yang bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Begitu
juga dengan Delisa yang sedang berusaha untuk menghafal bacaan sholat
agar sempurna. Agar bisa sholat dengan khusyuk. Delisa berusaha keras
agar bisa menghafalnya dengan baik. Selain itu Abi Usman pun berjanji
akan membelikan Delisa sepeda jika ia bisa menghafal bacaan sholat
dengan sempurna.



Sebelum
Delisa hafal bacaan sholat itu, Umi Salamah sudah membelikan seuntai
kalung emas dengan gantungan huruf D untuk Delisa. Delisa senang sekali
dengan kalung itu. Semangatnya semakin menggebu-gebu. Tapi entah
mengapa, Delisa tak pernah bisa menghafal bacaan sholat dengan
sempurna.



26 Desember 2004



Delisa
bangun dengan semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannya nyaris
sempurna, kecuali sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba Delisa lupa
bacaan sujudnya. Empat kali sujud, empat kali Delisa lupa. Delisa
mengabaikan fakta itu. Toh nanti pas di sekolah ia punya waktu banyak
untuk mengingatnya. Umi ikut mengantar Delisa. Hari itu sekolah ramai
oleh ibu-ibu. Satu persatu anak maju dan tiba giliran Alisa Delisa.
Delisa maju, Delisa akan khusuk. Ia ingat dengan cerita Ustad Rahman
tentang bagaimana khusuknya sholat Rasul dan sahabat-sahabatnya. "Kalo
orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya satu." Nah jadi
kalian sholat harus khusuk. Andaikata ada suara ribut di sekitar, tetap
khusuk.



Delisa
pelan menyebut "ta ‘ awudz". Sedikit gemetar membaca "bismillah".
Mengangkat tangannya yang sedikit bergetar meski suara dan hatinya
pelan-pelan mulai mantap. "Allahu Akbar".



Seratus
tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai
bertakbiratul ihram, persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis
di tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA.
Dasar bumi terban seketika! Merekah panjang ratusan kilometer.
Menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian mencuat.
Mengirimkan pertanda kelam menakutkan.



Gempa
menjalar dengan kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Nias lebur
seketika. Lhok Nga menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat Delisa,
tepat ketika Delisa mengucapkan kata "wa-ma-ma-ti" , lantai sekolah
bergetar hebat. Genteng sekolah berjatuhan. Papan tulis lepas, berdebam
menghajar lantai. Tepat ketika Delisa bisa melewati ujian pertama
kebolak-baliknya, Lhok Nga bergetar terbolak-balik.



Gelas
tempat meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh. Pecah
berserakan di lantai, satu beling menggores lengan Delisa. Menembus
bajunya. Delisa mengaduh. Umi dan ibu-ibu berteriak di luar. Anak-anak
berhamburan berlarian. Berebutan keluar dari daun pintu. Situasi
menjadi panik. Kacau balau. "GEMPAR"!



"Innashalati, wanusuki, wa-ma… wa-ma… wa-ma-yah-ya, wa-ma-ma-ti. ."



Delisa
gemetar mengulang bacaannya yang tergantung tadi. Ya Allah, Delisa
takut… Delisa gentar sekali. Apalagi lengannya berdarah membasahi
baju putihnya. Menyemburat merah. Tapi bukankah kata Ustadz Rahman,
sahabat Rasul bahkan tetap tak bergerak saat sholat ketika punggungnya
digigit kalajengking?



Delisa
ingin untuk pertama kalinya ia sholat, untuk pertama kalinya ia bisa
membaca bacaan sholat dengan sempurna, Delisa ingin seperti sahabat
Rasul. Delisa ingin khusuk, ya Allah…



Gelombang
itu menyentuh tembok sekolah. Ujung air menghantam tembok sekolah.
Tembok itu rekah seketika. Ibu Guru Nur berteriak panik. Umi yang
berdiri di depan pintu kelas menunggui Delisa, berteriak keras …
SUBHANALLAH! Delisa sama sekali tidak mempedulikan apa yang terjadi.
Delisa ingin khusuk. Tubuh Delisa terpelanting. Gelombang tsunami
sempurna sudah membungkusnya. Delisa megap-megap. Gelombang tsunami
tanpa mengerti apa yang diinginkan Delisa, membanting tubuhnya
keras-keras. Kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang masih
bersisa. Delisa terus memaksakan diri, membaca takbir setelah "i ‘
tidal…" "Al-la-hu- ak- bar…" Delisa harus terus membacanya! Delisa
tidak peduli tembok yang siap menghancurkan kepalanya.



Tepat
Delisa mengatakan takbir sebelum sujud itu, tepat sebelum kepalanya
menghantam tembok itu, selaksa cahaya melesat dari "Arasy Allah."
Tembok itu berguguran sebelum sedikit pun menyentuh kepala mungil
Delisa yang terbungkus kerudung biru. Air keruh mulai masuk, menyergap
Kerongkongannya. Delisa terbatuk. Badannya terus terseret. Tubuh Delisa
terlempar kesana kemari. Kaki kanannya menghantam pagar besi sekolah.
Meremukkan tulang belulang betis kanannya. Delisa sudah tak bisa
menjerit lagi. Ia sudah sempurna pingsan. Mulutnya minum berliter air
keruh. Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya.
Sikunya patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya patah.
Darah menyembur dari mulutnya.



Saat
tubuh mereka berdua mulai perlahan tenggelam, Ibu Guru Nur melepas
kerudung robeknya. Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas papan
sekencang yang ia bisa dengan kerudung itu. Lantas sambil menghela
nafas penuh arti, melepaskan papan itu dari tangannya pelan-pelan,
sebilah papan dengan Delisa yang terikat kencang diatasnya.



"Kau
harus menyelesaikan hafalan itu, sayang…!" Ibu Guru Nur berbisik
sendu. Menatap sejuta makna. Matanya meredup. Tenaganya sudah habis.
Ibu Guru Nur bersiap menjemput syahid.



Minggu, 2 Januari 2005



Dua
minggu tubuh Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya. Tubuhnya
tersangkut di semak belukar. Di sebelahnya terbujur mayat Tiur yang
pucat tak berdarah. Smith, seorang prajurit marinir AS berhasil
menemukan Delisa yang tergantung di semak belukar, tubuhnya dipenuhi
bunga-bunga putih. Tubuhnya bercahaya, berkemilau, menakjubkan! Delisa
segera dibawa ke Kapal Induk John F Kennedy. Delisa dioperasi, kaki
kanannya diamputasi. Siku

tangan
kanannya di gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka lebamnya
dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujur tubuhnya.



Aisyah
dan Zahra, mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimah juga
sudah ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan. Abi
Usman hanya memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar dari
pingsan. Prajurit Smith memutuskan untuk menjadi mu ‘ alaf setelah
melihat kejadian yang menakjubkan pada Delisa. Ia mengganti namanya
menjadi Salam.



Tiga
minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk, akhirnya ia diijinkan
pulang. Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal
bersama para korban lainnya di tenda-tenda pengungsian. Hari-hari
diliputi duka. Tapi duka itu tak mungkin didiamkan berkepanjangan. Abi
Usman dan Delisa kembali ke rumahnya yang dibangun kembali dengan
sangat sederhana.



Delisa
kembali bermain bola, Delisa kembali mengaji, Delisa dan anak-anak
korban tsunami lainnya, kembali sekolah dengan peralatan seadanya.
Delisa kembali mencoba menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Ia sama
sekali sulit menghafalnya. "Orang-orang yang kesulitan melakukan
kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa. Hatinya tidak ikhlas!
Hatinya jauh dari ketulusan." Begitu kata Ubai salah seorang relawan
yang akrab dengan Delisa.



21 Mei 2005



Ubai
mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuah bukit. Hari itu
Delisa sholat dengan bacaan sholat yang sempurna. Tidak terbolak-balik.
Delisa bahkan membaca doa dengan sempurna. Usai sholat, Delisa terisak.
Ia bahagia sekali. Untuk pertama kalinya ia menyelesaikan sholat dengan
baik. Sholat yang indah. Mereka belajar menggurat kaligrafi di atas
pasir yang dibawanya dengan ember plastik. Sebelum pergi meninggalkan
bukit itu, Delisa meminta ijin mencuci tangan di sungai dekat dari
situ.



Ketika
ujung jemarinya menyentuh sejuknya air sungai. Seekor burung belibis
terbang di atas kepalanya. Memercikkan air di mukanya. Delisa
terperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap burung tersebut yang terbang
menjauh. Ketika itulah Delisa menatap sesuatu di seberang sungai.



Kemilau
kuning. Indah menakjubkan, memantulkan cahaya matahari senja. Sesuatu
itu terjuntai di sebuah semak belukar indah yang sedang berbuah. Delisa
gentar sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah tersangkut. Ada
huruf D disana. Delisa serasa mengenalinya. D untuk Delisa. Diatas
semak belukar yang merah buahnya. Kalung itu tersangkut di tangan.
Tangan yang sudah menjadi kerangka. Sempurna kerangka manusia. Putih.
Utuh. Bersandarkan semak belukar itu.

UMMI…..

Sabtu, 21 Maret 2009

Dualisme Feminisme



Apabila anda cermati dengan seksama hampir 100 % iklan layanan masyarakat entah di media elektronik maupun di media masa yang lain menggunakan perempuan sebagai “penjajanya”. Seakan-akan sebuah iklan tidak akan dilirik masyarakat apabila tidak memakai model perempuan. Mulai iklan kosmetik, makanan, pakaian dan lain sebagainya. Apa karena perempuan cenderung konsumtif? Atau karena mereka lebih luwes? Atau jangan-jangan “keindahan perempuan” menjadi faktor penentu keberhasilan sebuah iklan layanan masarakat. Fenomena ini merupakan sebagian kecil dari kasus-kasus yang intinya tidak lebih dari eksploitasi terhadap kaum perempuan. Adapun wacana lain yang menjadi sorotan adalah tentang pornografi dan pornoaksi, praktek aborsi, perdagangan perempuan, para buruh internasional –yang umumya didominasi perempuan- hingga kekerasanan dalam rumah tangga yang lebih banyak menimpa kaum perempuan. Hal ini menarik perhatian penulis untuk mengkaji lebih lanjut berkaitan dengan eksistensi para pembela kaum hawa. Zaman seakan-akan berulang, cara-cara dialektika selalu saja terjadi di dunia ini. Kaum perempuan yang pada mulanya diperlakukan sebagai manusia kelas dua -sebagian lagi menganggapnya sebagai barang- sekali lagi terulang di jaman modern ini, bahkan pada beberapa kasus menjadi lebih buruk dari pada itu semua. Lalu, dimanakah gerangan para pembela kemerdekaan kaum perempuan yang “katanya” memperjuangkan dengan gigih “hak-hak” mereka. Sekali lagi, pandangan feminisme seakan mendua, di tengah hiruk pikuk pembelaan kebebasan kaum hawa, ternyata mereka terjebak pada eksploitasi kapitalistik yang justru merendahkan maratabat dan kehormatan mereka sebagai manusia. Mengapa terjadi demikian?
Feminisme sebagai sebuah ide (sebuah kesadaran) yang kemudian melahirkan gerakan, pada intinya membicarakan wilayah culture. Adalah sebuah pertanyaan yang sederhana yang selalu saja didengungkan kaum feminis dari sejak lahirnya hingga hari ini, mengapa label “maskulin” harus selalu dilekatkan pada kaum laki-laki, sebaliknya label feminisme “harus” selalu dilekatkan pada perempuan. Anggapan tentang penyerobotan beragai pandangan-pandangan bahwa peradaban ini adalah milik kaum laki-laki.
Pembahasan tentang bagaimana feminisme lahir dimulai dengan pemaparan hingga munculnya kesdaran dari sekelompok orang (agen of change) terhadap adanya ketidakadilan (tidak egaliter) terhadap cara pandang masarakat terhadap wanita Pada mulanya wanita dipandang rendah oleh masarakat di sekitarnya. Pandangan ini boleh dibilang muncul di berbagai belahan dunia. Baik di barat maupun di timur –masa lalu dan mungkin masih terjadi hinga hari ini-, pandangan miring tentang kaum wanita agaknya tidak pernah berubah, bahwa wanita adalah “warga kelas dua”. Pandangan itu juga dipengaruhi oleh tradisi agama-agama. Apakah itu Hinduisme, Budhisme, Yahudi ataupun Kristen/Katolik. Dalam tradisi Hindu, perempuan dilihat sebagai pembawa keberuntungan karena merka haid, menjadi istri dan melahirkan anak. Perempuan adalah sati, yaitu perempuan yang menikah dan berkorban untuk menyelamatkan suami. Perempuan yang menikah disebut sumangalisebab dia membawa keberuntungan suami dengan menolong suami untuk dapat memenuhi tujuan hidup mausia, yaitu dharma(kewajiban), artha (kesuburan atau kekayaan) serta kama (kenikmatan seks). Bagi bangsa India –yang notabene menjadi tempat munculnya tradisi hindu-, dalam aturan manu, perempuan diposisikan hanya sebagai pelayan bagi suami dan ayahnya. Perempuan tidak memiliki kebeb asan untuk menggunakan hartanya, bahkan mereka tidak berhak memiliki, sebab semua yang dimilikinya kembali kepada suaminya, atau ayahnya, aau anak laki-lakinya. Kesetiaan istri kepada suaminya dengan istri mengikuti suaminya yang meninggal dunia dengan membakar diri atau dikubur hidup-hidup.Dalam tradisi Budha, perempuan dianggap sebagai mahluk kotor yang suka menggoda laki-laki yang ingin menjadi suci. Laki-laki dianggap tidak memiliki kesalahan meskipun mereka jatuh dalam godaan. Dalam tradisi Yunani dan Romawi status wanita tidak lebih dari sekedar barang yang bisa diperjual belikan seenaknya saja. Kaum Yahudi memandang perempuan sebagai pelayan. Bahkan, ayahnya berhak untuk menjualnya tanpa punya pilihan. Bagi kaum Yahudi dan juga Nasrani, perempuan dianggap sebagai pangkal kejahatan dan sumber kesalahan dan dosa. Perempuan-(Hawa)-lah yang menyebabkan laknat abadi ditimpakkan kepada Adam dan keturunannya. dalam pandangan Barat Kristen, secara epistemologis perempuan atau female barasal dari bahasa Yunani femina. Kata femina berasal dari kata “fe” dan “minus”. Fe artine fides, faith (kepercayaan atau iman). Sedangkan mina berasal dari kata minus, artinya kurang. jadi femina artinya ‘seseorang yang imannya kurang
Tradisi Arab kuno tak kalah hina dalam memperlakukan kaum Hawa. Mereka memperlakukan perempuan dengan cara yang hampir mirip dengan tradisi-tradisi saudara-saudaranya di belahan bumi yang lain. Bahwa, seorang istri dapat diberikan kepada orang lain, setelah istri tersebut hamil ia boleh mengambilnya kembali. Praktek ini lazimnya dikenal dengan nikah. Pernikahan ini konon dipakai untuk tujuan perbaikan keturunan. Contoh yang lain adalah adanya nikah spontan, yang lain adalah bahwa kelahiran anak perempuan adalah aib bagi keluarga dan berbagai macam praktek pelacuran yang tentunya hanya mengarah pada praktek untuk merendahkan kaum Hawa. Melihat kondisi yang buruk itu, sejalan dengan perkembanan jaman. Perlahan hak-hak perempuan mulai diakui. Umumnya, kita sepakat bahwa kebangkitan feminisme lahir di barat. Adanya revolusi industri di barat boleh dikatakan merupakan titik tolak pergerakan feminisme di dunia. Dalam perkembangannya, sekalipun para feminis mempunyai kesadaran yang sama tentang adanya ketidakadilan terhadap perempuan di dalam keluarga maupun masarakat, tetapi mereka berbeda-beda dalam menganalisis sebab-sebab terjadinya ketidakadilan serta target dan bentuk perjuangan mereka. Perbedaan tersebut sejauh ini telah melahirkan empat aliran yaitu; feminisme liberal, feminisme marxis, feminisme radikal, dan feminisme sosialis. Akan tetapi, paham-paham itu malahan membuat perempuan semakin jauh dari kodrat mereka sebagai manusia. Nampaknya terjadi penafsiran yang salah dengan yang disebut keadilan itu sendiri. Aliran feminisme liberal dan feminisme marxisme tak lebih dari keinginan untuk mendudukan kaum laki-laki dan perempuan dalam keadaan yang sama dalam segala hal, ”Sama rata sama rasa”. Persamaan itu harus didasari oleh paham kebebasan yang lebih tepat dikatakan “kebablasan”. Paham radikal umumnya menolak adanya institusi keluarga. keluarga dianggapnya sebagai institusi yang melegitimasi dominasi laki-laki (patriarki), sehingga perempuan tertindas. Feminisme radikal cenderung membenci laki-laki. Meski tidak ekstrem feminisme sosialis lebih memilih cara-cara dialogis dalam rangka mencari kesepahaman antara kedudukan kaum laki-laki dan kaum perempuan. Kelemahan-kelemahan yang terjadi pada pergerakan feminisme barat agaknya tidak lepas dari cara pandang (epistemologis) barat terhadap realitas yang umumnya materialistik-sekuleristik. Bagaimanapun epistemologi barat cenderung tanpa nilai. Faktor sejarah juga turut berperan “memaksa” mereka berpandangan materialistik-sekuleristik. Pengekangan yang teramat lama dan teramat parah membuat kaum feminis barat tergerak untuk bertindak bebas tanpa batas. Lalu, apa implikasi dari itu semua? Sekali lagi, kaum hawa akan tetap terjebak dalam dunia kapitalistik. Bahwa perempuan adalah komoditi. Akibat lain adalah, perilaku budaya bebas tanpa batas hanya akan membuat mereka semakin jauh dari fitrah mereka sebagai perempuan, semakin jauh dari kemuliaan yang selalu diidam-idamkan. Kemudian, bagaimanakah seharusnya pergerakan feminisme itu? Feminisme yang benar harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip keadilan. Bahwa, pergerakan feminisme hendaknya tidak membelakangi kodrat (fitrah) kaum hawa sebagai individu pendidik. Adanya institusi perkawinan yang benar bukanlah sebuah pengekangan terhadap kaum perempuan, namun sebuah penjaminan yang akan menciptakan kesejahteraan bersama. Dalam terminologi Islam dikenal dengan istilah keluarga sakinah, mawadah wa rahmah. Adapun peran-peran perempuan dalam lingkungan sosial tetap menjadi prioritas utama, namun tidak mengabaikan fungsi-fungsinya sebagai peran sebagai pimpinan keluarga yang kedua setelah suami. Sebagai pondasi keluarga, soko guru peradaban.bukankah dikatakan, “kejayaan sebuah bangsa bisa dilihat seberapa kuat peran perempuan di dalamnya”. Bagaimanapun sistem nilai tetap diperlukan. Aturan main harus ada. Agar segala sesuatu dapat berjalan dengan seimbang, sesuai takarannya, sesuai kodratnya. Sehingga kebebasan itu tidak “kebablasan”.